Kau Memelukku Di Kehidupan Ini, Tapi Hatiku Masih Di Kehidupan Lalu

Kau Memelukku di Kehidupan Ini, Tapi Hatiku Masih di Kehidupan Lalu

Aula Emas Istana Naga, berkilauan diterangi ribuan lilin, namun hawa dinginnya menusuk tulang. Di sanalah, Kaisar muda Li Wei, dengan jubah naga keemasannya, memberikan tatapan tajam kepada para pejabat yang berbaris di hadapannya. Setiap gerakan adalah perhitungan, setiap kata adalah timbangan. Di sampingnya, berdiri Maharani Xia, wanita tercantik di seluruh kekaisaran, dengan senyum yang tak pernah sampai ke matanya.

Li Wei mencintai Xia. Ia sungguh mencintainya. Dalam kehidupan ini, Xia adalah miliknya. Ia telah memenangkan hati dan tangannya melalui serangkaian manuver politik yang licik. Namun, setiap kali Li Wei memeluknya, merasakan kehangatan tubuhnya, ia merasakan ada jarak yang tak bisa ditembus. Sebuah jurang masa lalu.

"Maharani," bisik Li Wei suatu malam, di tengah taman istana yang dipenuhi bunga-bunga langka, "Mengapa kau selalu terlihat begitu jauh? Aku adalah kaisarmu, suamimu... apakah aku belum cukup?"

Xia hanya tersenyum tipis. "Kaisar terlalu banyak berpikir. Tugas saya adalah melayani Yang Mulia dan Kekaisaran. Itu sudah cukup."

Namun, Li Wei tahu ada sesuatu yang disembunyikan Xia. Ia mendengar bisikan-bisikan di balik tirai sutra, pengkhianatan yang berhembus seperti angin malam. Ia tahu bahwa di balik senyum manis Xia, tersembunyi hati yang dipenuhi dendam.

Dendam itu bermula dari kehidupan sebelumnya. Li Wei ingat sekilas pengkhianatan, kematian, dan janji balas dendam yang terucap di bibir Xia yang terluka. Di kehidupan itu, Li Wei adalah seorang jenderal yang kejam, yang mengkhianati keluarga Xia dan merebut tahta dengan darah dan air mata.

Dan Xia tidak pernah melupakannya.

Cinta Li Wei adalah permainan takhta. Setiap pelukan adalah jebakan, setiap ciuman adalah racun. Ia menggunakan Xia untuk mengendalikan para pejabat yang loyal kepada keluarga Xia, untuk memadamkan api pemberontakan yang membara di hati mereka. Ia percaya bisa mengubah hati Xia, menebus dosanya di masa lalu dengan cintanya di masa kini.

Ia salah.

Puncak intrik istana mencapai klimaks saat perayaan ulang tahun kaisar. Di tengah pesta yang meriah, dengan tarian dan musik yang memenuhi udara, Xia memberikan persembahan terakhirnya: secangkir arak beracun.

Li Wei menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Ia tahu. Ia selalu tahu.

"Mengapa, Xia?" bisiknya, suaranya bergetar.

Xia mendekat, membisikkan kata-kata yang menusuk jantung Li Wei seperti pedang es. "Kau memelukku di kehidupan ini, Kaisar. Tapi hatiku masih di kehidupan lalu. Dan di kehidupan itu, kau berhutang nyawa padaku."

Xia tersenyum. Senyum yang indah, dingin, dan mematikan. Ia mengangkat cangkir arak itu, dan menawarkannya pada kaisar. Li Wei meminumnya.

Xia, yang selama ini dianggap lemah, akhirnya membalaskan dendamnya. Balas dendam yang elegan, balas dendam yang dingin, balas dendam yang mematikan. Kekaisaran menyaksikan, dalam hening yang mencekam, saat Kaisar Li Wei jatuh ke tanah, dan Maharani Xia berdiri tegak di atasnya, ratu sejati yang sebenarnya.

Dan kemudian, ia tersenyum lagi, menatap ke arah gerbang istana yang mulai gemuruh dengan suara pasukan yang mendekat, pasukan pemberontak yang telah ia siapkan selama bertahun-tahun.

Sejarah baru saja menulis ulang dirinya sendiri, dan tinta dari darah itu masih menetes...

You Might Also Like: 49 Introducing Yourself Examples

Post a Comment