Aku Meninggalkannya di Istana, Tapi Bayangannya Mengikuti ke Neraka
Denting guqin di malam yang sunyi ini menyayat kalbuku. Setiap nada adalah tetesan air mata yang tak pernah bisa kuusap. Di Istana Terlarang, tempat di mana aku pernah menjadi ratu, aku ditinggalkan. Bukan karena aku tak dicintai, bukan karena aku tak setia, tapi karena… aku harus.
Lihatlah istana ini, megah namun dingin. Dulu, senyumnya adalah matahariku, dekapan hangatnya melindungiku dari badai intrik. Kaisar Li Wei. Aku mencintainya melebihi nyawaku sendiri.
Namun, cinta saja tak cukup.
Aku tahu, dia mengira aku mengkhianatinya. Aku tahu, matanya yang dulu penuh kasih kini memancarkan kebencian dan keraguan. Aku melihatnya, dari kejauhan, saat aku diusir dari istana. Dia berdiri di balkon, sosoknya kecil dan rapuh di bawah rembulan. Aku ingin berlari, menjelaskan… tapi bibirku terkunci.
Rahasia ini… rahasiaku harus tetap aman, meski harus mengorbankan kebahagiaanku.
Aku memilih diam, memilih menjadi pengkhianat di matanya. Lebih baik dia membenciku daripada mengetahui kebenaran pahit yang bisa menghancurkan kerajaannya.
Aku mengembara, menjadi seorang biarawati di kuil terpencil. Setiap hari, aku memohon ampun atas dosa yang tak pernah kulakukan. Bayangannya selalu ada di sisiku, membayangi setiap langkahku. Bukan bayangan amarah, tapi bayangan kesedihan yang mendalam.
Suatu malam, seorang pengemis tua datang ke kuil. Tangannya gemetar, matanya penuh ketakutan. Dia menyerahkan sebuah kotak kayu kecil, berukir naga dan phoenix.
"Ini… ini dari mendiang Kaisar Li Wei," bisiknya. "Dia… dia menyuruhku memberikannya padamu, hanya jika… hanya jika dia sudah tiada."
Jantungku berdebar kencang. Aku membuka kotak itu. Di dalamnya, bukan perhiasan atau surat cinta, melainkan sebuah pipa tua, dan selembar kain sutra. Di kain itu, terlukis lambang keluarga kekaisaran… dan di bawahnya, sebuah tanda lahir kecil berbentuk bulan sabit, persis seperti yang ada di bahuku.
Di bawah tanda bulan sabit itu, tertulis: " Putriku. Aku tahu. Aku selalu tahu."
Duniaku runtuh.
Selama ini… selama ini dia tahu aku adalah putri dari pemberontak yang dikalahkan! Dia tahu aku menyamar untuk membalas dendam! Tapi kenapa? Kenapa dia tidak menghukumku?
Pengemis itu melanjutkan, "Kaisar tahu bahwa kau datang untuk membalaskan dendam keluargamu. Tapi dia memilih untuk mencintaimu, untuk melindungimu. Dia tahu bahwa mengungkap identitasmu akan membahayakanmu, dan seluruh kerajaannya. Dia memilih untuk menderita, demi dirimu."
Air mataku tumpah, tak terkendali. Selama ini, aku salah paham. Aku mengira dia membenciku, padahal dia justru melindungiku dengan cara yang paling menyakitkan.
Kini, aku mengerti. Balas dendamku tidak diperlukan. Takdir telah berbalik arah. Aku, putri seorang pemberontak, telah dicintai dan dilindungi oleh Kaisar yang seharusnya menjadi musuhku. Dan kebenaran itu, lebih menyakitkan daripada seribu pedang.
Denting guqin kembali bergema. Kali ini, bukan hanya penyesalan yang kurasakan, tapi juga rasa hormat dan cinta yang mendalam. Aku ditinggalkan di Istana Terlarang, tapi cintanya membawaku ke neraka bernama penyesalan abadi.
Tapi, ada satu pertanyaan yang terus menghantuiku: jika dia sudah tahu identitasku, siapa sebenarnya yang membocorkannya dan mengapa dia begitu lama berdiam diri?
You Might Also Like: Jualan Kosmetik Fleksibel Kerja Dari
Post a Comment