FULL DRAMA! Langit Yang Mengulang Keajaiban

Hujan merajam jendela kamar, serupa dengan ingatan yang merajam hatiku. Dinginnya menusuk, mengingatkanku pada malam itu, malam pengkhianatan. Lima tahun berlalu, namun setiap tetesnya masih terasa seperti pecahan kaca yang menghujam.

Dulu, aku dan Lian adalah dua bintang yang menari di langit malam. Cintaku padanya SEMERAH matahari terbit, SEBIRU laut yang dalam. Tapi, ia memilih gemerlap duniawi, meninggalkan aku dalam kegelapan yang abadi.

Kulihat bayanganku di cermin, patah dan terdistorsi. Dulu, aku adalah seorang gadis penuh mimpi, kini hanya ada bayangan yang menyimpan luka. Aku, Arini, kini adalah cangkang kosong yang menyimpan dendam.

"Arini," suara serak itu mengagetkanku. Lian berdiri di ambang pintu, bayangannya yang tinggi menjulang seolah mengejek kerapuhanku. Matanya yang dulu memancarkan cinta, kini hanya menyimpan kehampaan.

"Ada apa?" tanyaku, berusaha menyembunyikan gemetar di suaraku.

"Aku... aku ingin meminta maaf," bisiknya, lirih nyaris tak terdengar. Cahaya lentera di meja belajar berkedip lemah, nyaris padam, seolah mencerminkan harapan yang telah lama mati.

Maaf? Setelah semua yang ia lakukan? Setelah ia merenggut semua kebahagiaanku?

"Maaf tidak akan mengembalikan apa pun," desisku, menahan air mata yang mendesak keluar.

Ia mendekat, tangannya terulur, mencoba meraih tanganku. Aku menepisnya dengan kasar.

"Jangan sentuh aku," ujarku dingin. "Kau tidak pantas."

Lian terdiam, wajahnya menegang. Di matanya, sekilas kulihat KETAKUTAN. Senyum sinis terukir di bibirku. Apakah dia baru menyadari bahwa perbuatannya memiliki konsekuensi? Bahwa setiap luka yang ia torehkan akan kembali padanya dengan kekuatan berlipat ganda?

Selama ini, aku menyembunyikan KEBENARAN. Semua penderitaan ini, semua air mata ini, adalah bahan bakar untuk rencana yang telah kupersiapkan dengan TELITI. Aku membiarkannya merasa bersalah, membiarkannya mendekat, agar saatnya tiba, aku bisa menjatuhkannya SEKALI dan UNTUK SELAMANYA.

Aku melihatnya. Lian. Di matanya ada rasa bersalah. Dan ketakutan. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi.

"Arini, aku... aku-"

"Kau akan merasakan apa yang aku rasakan," potongku, suara bergetar menahan emosi.

Di balik setiap tetes air mata, di balik setiap malam tanpa tidur, di balik setiap senyum palsu yang kupasang, tersembunyi sebuah RENCANA.

Lian menatapku dengan tatapan bingung.

"Kau tidak mengerti," bisiknya.

Aku menatapnya. Mengeluarkan sebuah surat dari laci.

"Kau salah, LIAN. AKU sudah MENGIRIMKAN semua yang kau inginkan kepada Ayahmu. DAN DIA SUDAH MENERIMANYA. Jadi, Selamat menikmati...."

Dan di balik senyumku, tersembunyi sebuah KEBENARAN yang akan mengubah segalanya: Ayahnyalah yang selama ini menjadi dalang di balik semua tragedi yang menimpa keluargaku.

You Might Also Like: Jual Produk Skincare Lotase Original

Post a Comment