Senyum yang Menjadi Akhir Dunia
Babak 1: Bunga Persik di Tepi Jurang
Seratus tahun berlalu sejak janji terucap di bawah rembulan berdarah. Janji yang mengikat dua jiwa, mengutuk mereka untuk terlahir kembali, mencari satu sama lain di labirin waktu. Sekarang, di tengah hiruk pikuk kota modern, seorang gadis bernama Lin Mei, merasakan getaran aneh saat melewati taman bunga persik yang tengah bermekaran. Aroma manisnya menusuk hatinya, memanggil kenangan yang terasa asing namun familier.
Lin Mei, seorang seniman muda yang tengah berjuang menemukan jati dirinya, seringkali bermimpi tentang seorang pria berpakaian putih, berdiri di tepi jurang, wajahnya tertutup kabut. Yang jelas terlihat hanyalah SENYUMNYA. Senyum yang begitu indah, namun menyimpan luka yang dalam.
Di sisi lain kota, seorang CEO muda bernama Zhang Wei, hidup dengan perasaan hampa yang tak terjelaskan. Ia sukses dalam bisnis, dikelilingi kemewahan, namun jiwanya terasa kosong. Setiap malam, ia mendengar bisikan-bisikan lirih dalam tidurnya, seolah-olah ada seseorang yang memanggil namanya dari kejauhan. Ia hanya tahu, suara itu MEMBUAT HATINYA SAKIT.
Pertemuan mereka tidak terduga. Lin Mei ditugaskan untuk melukis potret Zhang Wei untuk sebuah amal. Saat mata mereka bertemu, waktu seolah berhenti. Zhang Wei merasakan DEJA VU yang kuat, seolah-olah ia pernah mengenal gadis ini seumur hidupnya. Lin Mei, terkejut dengan intensitas tatapan Zhang Wei, tanpa sadar menjatuhkan kuasnya.
Babak 2: Gema Masa Lalu
Pertemuan itu menjadi awal dari serangkaian kejadian aneh. Lin Mei mulai menggambar pemandangan-pemandangan yang belum pernah ia lihat, namun terasa sangat nyata: sebuah paviliun di tengah danau, hutan bambu yang diselimuti kabut, dan tentu saja, seorang pria berpakaian putih di tepi jurang. Lukisannya itu seolah-olah adalah potongan-potongan memori yang hilang.
Zhang Wei, di sisi lain, mulai mengalami FLASHBACK yang mengganggu. Ia melihat dirinya di masa lalu, mengenakan pakaian bangsawan, mencintai seorang wanita cantik jelita bernama Yue Ling. Yue Ling adalah seorang putri yang berani dan cerdas, namun terperangkap dalam pernikahan politik. Cinta mereka terlarang, penuh bahaya.
Perlahan, misteri masa lalu mereka mulai terungkap. Yue Ling dituduh berkhianat dan dijatuhi hukuman mati. Zhang Wei, yang saat itu adalah seorang jenderal kepercayaan kaisar, bersumpah untuk melindunginya, namun gagal. Di saat-saat terakhir Yue Ling, ia mengutuk mereka berdua, mengikat jiwa mereka dalam reinkarnasi tanpa akhir, hingga hutang darah terbayar lunas.
"Aku bersumpah, di kehidupan selanjutnya, aku akan membuatmu merasakan sakit yang sama!" Bisikan Yue Ling terngiang di telinga Zhang Wei.
Babak 3: Kebenaran yang Pahit
Ternyata, Zhang Wei di masa lalu adalah orang yang MENGKHIANATI Yue Ling. Ia diancam oleh kaisar untuk memilih antara kekuasaan dan cintanya. Dengan berat hati, ia memilih kekuasaan, dan menyerahkan Yue Ling kepada algojo. Namun, ia tidak pernah melupakan Yue Ling. Setiap malam, ia dihantui oleh penyesalan.
Kebenaran ini menghancurkan Lin Mei. Ia merasa dikhianati, sekali lagi. Namun, ia tidak merasakan kemarahan. Ia hanya merasakan kesedihan yang mendalam. Ia tahu, membalas dendam tidak akan membawa kebahagiaan.
Saat Zhang Wei berlutut di hadapannya, memohon ampun, Lin Mei hanya tersenyum. Senyum yang sama seperti yang ia lihat dalam mimpinya. SENYUM YANG MENJADI AKHIR DUNIA bagi Zhang Wei. Karena di balik senyum itu, tersembunyi keheningan dan pengampunan yang menusuk, menghancurkan hatinya berkeping-keping.
Lin Mei tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia hanya mengangkat tangannya, menyentuh pipi Zhang Wei, lalu berbalik dan pergi. Zhang Wei terdiam, terpaku di tempatnya, merasakan luka yang lebih dalam dari kematian.
Epilog:
Beberapa tahun kemudian, Lin Mei menjadi seniman terkenal. Lukisannya dipajang di galeri-galeri ternama di seluruh dunia. Namun, ia tidak pernah melukis potret Zhang Wei lagi.
Suatu malam, di tengah pameran tunggalnya, Lin Mei mendengar bisikan lirih dari seseorang di belakangnya.
"Jangan lupakan...bunga persik..."
Apakah itu hanya imajinasinya? Atau bisikan dari kehidupan sebelumnya, yang masih TERJEBAK di antara dimensi waktu?
You Might Also Like: Manfaat Sunscreen Mineral Aman Untuk
Post a Comment