Cerpen: Senyum Yang Kutemukan Di Waktu Lain

Alunan guqin memenuhi kedai teh kecil di kaki Gunung Huangshan. Malam sunyi, sepi. Aku, Li Wei, menyesap teh Longjing pahit, membiarkan uapnya menghangatkan jemariku yang dingin. Empat tahun. Empat tahun sejak senyum itu direnggut, sejak kehancuran itu dimulai.

Senyum Mingzhu. Istriku.

Dia dicintai banyak orang, terutama oleh sahabatku, Zhang Hao. Aku tahu tatapan rahasia mereka, percakapan bisik-bisik yang tiba-tiba terhenti saat aku mendekat. Tapi aku memilih diam. Bukan karena aku lemah. Ada alasan lain, sesuatu yang lebih besar dan mengerikan yang harus kulindungi.

Zhang Hao, ambisius dan haus kekuasaan, akhirnya berhasil merebut segalanya. Perusahaan, reputasi, bahkan Mingzhu. Dia menyebarkan fitnah, menjebakku dalam skandal keuangan, dan membuatku terpojok. Aku diasingkan, ditinggalkan. Mingzhu meninggalkanku tanpa sepatah kata pun.

Beberapa orang berpikir aku dendam. Mereka salah. Dendam adalah kemewahan yang tak mampu kubayar. Rahasiaku, rahasia Mingzhu, terlalu berharga untuk dipertaruhkan demi kepuasan sesaat. Rahasia tentang identitas aslinya: putri terakhir dari keluarga kekaisaran yang tersingkir.

Waktu terus berjalan. Aku menjadi penyendiri, menghabiskan hari-hari mempelajari teh dan melukis pemandangan. Perlahan, aku mulai mengumpulkan bukti. Bukan bukti kejahatan Zhang Hao, melainkan bukti kebenaran tentang Mingzhu. Aku menemukannya tersembunyi di antara lukisan-lukisan lama keluarga Mingzhu: sebuah wasiat. Wasiat yang menyebutkan Zhang Hao sebagai ahli waris kekayaan keluarga mereka, dengan syarat dia harus menikahi Mingzhu.

Dia tidak mencintainya. Itu semua adalah rencana.

Semua kepingan mulai menyatu. Pengkhianatan itu bukan sekadar cinta segitiga. Itu adalah konspirasi. Aku diam bukan karena bodoh, tapi karena menunggu waktu yang tepat untuk mengungkap kebenaran, bukan dengan kekerasan, tapi dengan Takdir.

Aku mengirimkan salinan wasiat itu kepada dewan keluarga Zhang, yang sangat menjunjung tinggi garis keturunan dan kehormatan. Skandal itu meledak. Zhang Hao, yang selama ini dipuja, kini dicap sebagai penipu dan pengkhianat. Kekayaannya disita, reputasinya hancur. Mingzhu, yang selama ini hidup dalam kebohongan, akhirnya mengetahui bahwa suaminya sendiri yang telah memanfaatkannya.

Aku tak pernah menghubunginya. Aku tahu, kebenaran ini akan lebih menyakitkan daripada kehilangan cinta. Tapi, aku juga tahu, inilah satu-satunya cara agar dia bisa benar-benar bebas.

Malam ini, aku melihatnya. Dari kejauhan. Dia berdiri di jembatan batu, memandang sungai yang mengalir deras. Di wajahnya, aku melihat senyum samar, sebuah senyum yang tak pernah kulihat sebelumnya. Sebuah senyum kebebasan.

Zhang Hao, kini hidup terlunta-lunta, mencoba mendekatinya. Dia ditolak mentah-mentah. Takdir memang berbalik arah. Pahit, namun indah.

Aku bangkit, meninggalkan kedai teh. Malam sunyi menyelimutiku. Aku berjalan menjauh, meninggalkan masa lalu di belakangku. Aku tahu, walau kami tak akan pernah bersama lagi, Mingzhu akhirnya menemukan kedamaiannya.

Dan aku... aku hanya bisa berharap, di waktu lain, di kehidupan lain, senyum itu akan menjadi milikku.

Tapi apakah aku pantas mendapatkannya?

You Might Also Like: Jual Skincare Aman Untuk Kulit Sensitif

OlderNewest

Post a Comment