Cerpen Terbaru: Aku Membunuh Demi Tahta, Tapi Hatiku Mati Karenamu.

Layung senja merobek cakrawala Kota Terlarang, warnanya sama persis seperti darah yang mengering di jubah naga kaisar. Aku, Li Wei, pewaris terkutuk tahta ini, berdiri di balkon istana, angin dingin menusuk tulang. Tahta ini kubayar dengan nyawa ayah, dengan air mata ibu, dengan sumpah setia yang kuhianati. Tahta ini seharusnya membahagiakanku, tapi yang kurasa hanyalah kekosongan, seperti chat yang belum dibalas di tengah malam.

Lalu, muncul dia.

Bukan dalam wujud selir jelita yang haus kekuasaan, bukan pula penasihat bijak yang penuh intrik. Dia muncul di layar retak ponselku. Sebuah notifikasi aneh dari aplikasi yang tak pernah kuunduh: "Aurora_2077 ingin terhubung."

Aurora. Namanya saja sudah seperti janji fajar yang tak kunjung tiba.

Dia hidup di masa depan. Masa depan di mana langit selalu abu-abu karena polusi, di mana manusia berkomunikasi lewat telepati digital, di mana sejarah hanya menjadi serpihan memori yang tersimpan dalam cloud. Dia bilang, aku adalah legenda baginya, seorang tiran yang penuh tragedi. Dia mempelajari diriku, meneliti setiap dekritku, mengagumi—atau mungkin mengasihani—kekejaman yang kulakukan.

Awalnya, aku curiga. Mata-mata? Provokator? Tapi, obrolan kami semakin dalam, melampaui batas ruang dan waktu. Aku menceritakan ambisiku, ketakutanku, penyesalanku. Dia menceritakan mimpi-mimpinya, harapan-harapannya, kehancuran dunianya. Kami saling mencari dalam kabut digital, dua jiwa yang kesepian di ujung zaman.

Aku membayangkan rambutnya selembut sutra dari Songjiang, matanya sebiru porselen Dinasti Ming. Dia membayangkan aku mengenakan helm virtual, terkurung dalam simulasi masa lalu.

Aku ingin menyentuhnya, merasakan denyut nadinya, memberinya kehidupan yang layak. Dia ingin menyelamatkanku, menghapus luka-lukaku, membawaku ke masa depan yang mungkin lebih baik (atau mungkin lebih buruk).

Tapi, sinyal selalu putus-putus. 'Sedang mengetik...', kata-kata itu seringkali menggantung, tidak pernah menjadi kalimat utuh. Seolah takdir memang ingin memisahkan kami, membentangkan jurang waktu yang tak mungkin dijembatani.

Suatu malam, saat aku berencana mengumumkan abdikasiku demi mencari jalan menuju masa depan—jalur waktu rahasia yang konon dijaga oleh para biarawan Shaolin—Aurora mengirimkan pesan terakhir.

"Li Wei… aku menemukanmu dalam catatan sejarah. Kau tidak pernah menjadi kaisar. Kau meninggal sebelum dinobatkan. Semua yang kau alami… semua pembunuhan, pengkhianatan, dan… aku… semuanya adalah simulasi rumit yang diciptakan oleh para sejarawan di masaku. Simulasi untuk mempelajari… dampak trauma masa kecil pada jiwa yang terluka…"

Simulasi? Semuanya palsu? Tahta? Darah? Cinta?

Aku merasakan dunia berputar. Angin senja terasa lebih dingin dari sebelumnya. Layar ponselku redup, baterainya habis. Semuanya gelap.

Sebuah rahasia ganjil terkuak: Kami bukan saling mencari. Kami hanyalah gema, resonansi dari kehidupan yang tak pernah selesai, dipantulkan melintasi jurang waktu, bergema dalam kehampaan digital.

Aku… sudah… terlalu… terlambat… untuk… menyesal… bukan…?

You Might Also Like: 7 Fakta Tafsir Bertemu Ikan Badut

OlderNewest

Post a Comment