Wajib Baca! Kau Mengingat Setiap Pelajaran, Tapi Melupakan Yang Paling Penting — Aku

## Kau Mengingat Setiap Pelajaran, Tapi Melupakan yang Paling Penting — Aku Dunia ini terasa seperti *buffering* abadi. Langit, bukannya merekah fajar, malah menampilkan deretan piksel mati. Sinyal cinta kita, konon katanya sekuat bintang utara, kini tinggal satu bar, berkedip-kedip seperti lampu disko murahan di gang belakang ingatanku. Aku, Li Wei, hidup di reruntuhan kenanganmu. Setiap sudut apartemen kumuh ini, beraroma mie instan dan penyesalan, dipenuhi bayangan senyummu. Dulu, aku selalu menunggumu di sini, di balkon dengan teko teh dan mimpi-mimpi yang kita rajut bersama. Sekarang, aku menunggu sinyalmu. Sebuah pesan. *Apapun*. Dan kau? Oh, kau, Lin Mei, si jenius dengan IQ setinggi menara radio, hidup di masa depan. Di dunia yang katanya serba pintar, serba terkoneksi. Dunia yang **seharusnya** membuat kita lebih dekat. Tapi justru sebaliknya. Aku tahu kau sibuk. Merakit algoritma cinta, mengoptimalkan kebahagiaan, entah apa lagi. Aku tahu kau mengingat setiap rumus, setiap teori, setiap *byte* informasi yang masuk ke otakmu. Tapi sayang, sayang sekali, kau melupakan yang paling **PENTING**. Aku mencoba menghubungimu. Puluhan pesan, ratusan panggilan. Semuanya berakhir dengan nada sibuk, atau yang lebih menyakitkan, tanda "sedang mengetik" yang tak pernah berubah menjadi balasan. Rasanya seperti melukis Mona Lisa di atas air. Indah, sia-sia, dan menghilang dalam sekejap. Suatu malam, di tengah badai elektronik yang menggema di seantero kota, aku mendengar suaramu. Samar-samar, seperti siaran radio ilegal dari planet lain. "Li Wei... Aku... aku hampir ingat..." Suaramu terputus. Aku membalas, berteriak ke dalam telepon, berharap gelombang elektromagnetik membawanya ke dimensi tempat kau berada. Tapi sunyi. Hanya statis yang berdengung, seperti tawaran perpisahan dari semesta. Lalu, keesokan harinya, aku menemukan sebuah kotak musik tua di loteng. Kotak musik yang sama persis dengan yang kau berikan padaku saat ulang tahunku yang ke-20. Aku memutar kenopnya. Lagu sedih mengalun, lagu yang sama persis dengan yang sering kita dengarkan. Di dalam kotak itu, aku menemukan sebuah surat. Ditulis dengan tinta pudar, di atas kertas yang rapuh. *Li Wei-ku, jangan pernah lupakan. Cinta kita bukan tentang masa lalu atau masa depan. Cinta kita adalah tentang gema. Gema dari kehidupan yang tak pernah selesai, yang berulang terus menerus di berbagai dimensi. Kita adalah dua bagian dari satu jiwa yang mencoba menemukan jalan pulang.* Aku menggenggam surat itu erat-erat. Lalu, aku menyadari sesuatu yang **MENGERIKAN**. Tulisan tangan di surat itu... adalah *MILIKKU*. Mungkin, Lin Mei tidak pernah ada. Mungkin, semua ini hanyalah proyeksi dari pikiranku yang kacau, sebuah simulasi cinta yang dirancang untuk melupakan **KEBENARAN** yang lebih pahit. Atau mungkin... Dunia ini memang retak. Dan sebelum layar padam sepenuhnya, sebelum kesadaran lelap selamanya... *Apa kau mendengarkanku, kekasihku yang hilang*...?
You Might Also Like: Peluang Bisnis Kosmetik Jualan Online

Post a Comment