**Cinta yang Menyeretku ke Dalam Dosa** Lorong istana bergemuruh hening, seolah menahan napas selama bertahun-tahun. Dinding-dindingnya, bisu menyaksikan intrik dan tragedi, kini kembali menelan seorang pejalan kaki yang kembali dari kematian. Adalah Li Wei, yang lima tahun lalu dinyatakan gugur dalam pertempuran di perbatasan utara. Kabut tebal menyelimuti pegunungan di luar istana, menyembunyikan rahasia kelam yang siap meledak. "Wei...kau benar-benar kembali?" Suara lemah itu milik Putri Mei Lan, wanita yang dulu Li Wei cintai sepenuh hati. Wajahnya yang cantik kini dipenuhi kerutan dan kesedihan. Li Wei mengangguk pelan. "Aku kembali, Mei Lan. Untuk mencari jawaban." Matanya, dulu penuh cinta, kini memancarkan ketegasan yang dingin. "Jawaban apa? Semua sudah berlalu, Wei. Biarkan masa lalu terkubur." "Tidak bisa. Terlalu banyak yang *TIDAK BERES*. Terlalu banyak nyawa melayang. Aku tahu, kau tahu..." Li Wei mendekat, suaranya berbisik seperti desiran angin di antara pilar-pilar istana. "Siapa yang memerintahkan penyerangan itu. Siapa yang mengkhianati kami." Mei Lan memalingkan wajah. "Kau... menuduhku?" "Bukan menuduh," jawab Li Wei dengan nada lembut yang justru terasa **MEMBUNUH**. "Aku sudah tahu. Aku hanya ingin mendengar pengakuanmu." Kemudian, malam itu, di bawah rembulan yang pucat, kebenaran terungkap. Mei Lan, yang selama ini dianggap sebagai korban intrik istana, justru adalah dalang di balik semuanya. Ia yang merencanakan penyerangan di perbatasan, memanfaatkan cinta Li Wei untuk mencapai tujuannya. Kekuasaan. Balas dendam. Segalanya. "Kau mencintaiku, Wei. Dulu. Dan aku memanfaatkannya. Sungguh bodoh dirimu." Senyum sinis tersungging di bibir Mei Lan. "Tahukah kau? Aku selalu membenci tatapanmu. Tatapan *PENUH CINTA* itu membuatku jijik." Li Wei terdiam. Kata-kata itu menghantamnya lebih keras daripada pedang manapun. Semua pengorbanannya, semua kesetiaannya, semua cintanya, ternyata hanyalah alat. "Kenapa?" hanya kata itu yang mampu keluar dari bibirnya. Mei Lan tertawa. Tawa dingin yang menggema di lorong sunyi. "Karena aku *MENYUKAI* kekuasaan. Dan kau terlalu bodoh untuk menyadarinya." Li Wei menatap Mei Lan, bukan dengan cinta, bukan dengan amarah, melainkan dengan rasa kosong yang tak terhingga. Semua telah berakhir. Kebenaran telah terungkap. Dan ia, Li Wei, hanyalah bidak dalam permainannya. Kemudian, Mei Lan mendekat, membisikkan kata-kata terakhirnya, "Selamat datang di dunia yang kubangun, Wei. Di dunia ini, kaulah *CORBAN* abadi."
You Might Also Like: Jualan Kosmetik Bisnis Sampingan

Post a Comment