**Janji yang Kumasak Dalam Api Dendam** Hujan kota membasahi kaca jendela apartemenku, seperti air mata yang enggan jatuh. Di layar ponsel, notifikasi LINE berkedip tanpa ampun, mengingatkanku pada _semua_. Nama "Adrian" terpampang di sana, sisa percakapan yang tak terkirim, untaian kata yang mati sebelum terucap. Dulu, setiap notifikasi darinya adalah melodi. Sekarang, hanya gema yang menyakitkan. Kami bertemu di dunia maya, di antara algoritma dan _scrolling_ tanpa henti. Cintanya, awalnya, semanis aroma kopi di kafe favoritku. Setiap pesan darinya adalah janji yang berbisik, mimpi yang kutangkap dalam genggaman. Kami menjelajahi kota bersama, berpegangan tangan di tengah keramaian, tertawa di bawah gemerlap lampu kota. Adrian, dengan senyumnya yang menawan, menjadi pusat semestaku. Namun, seperti kopi yang terlalu lama dibiarkan, cinta kami mendingin. Kata-katanya menjadi lebih jarang, senyumnya lebih dipaksakan. Ada jarak yang menganga di antara kami, sebuah jurang yang kutak tahu bagaimana cara menyeberanginya. Lalu, suatu malam, semuanya berakhir tanpa penjelasan. Hanya ada pesan singkat, "Maaf, ini harus berakhir." Kehilangan itu seperti kabut tebal yang menyesakkan. Aku mencoba melupakan, menghapus semua jejaknya dari hidupku. Foto-foto kami kusembunyikan dalam folder tersembunyi. Nomor teleponnya kublokir. Namun, kenangan itu seperti duri yang tertancap dalam hati, tak bisa dicabut tanpa meninggalkan luka. Aku mulai bertanya-tanya, apa yang salah? Apa yang kulakukan hingga ia meninggalkanku? Ada _rahasia_ yang ia sembunyikan dariku, aku yakin itu. Aku menyelidiki. Diam-diam kubuka akun media sosialnya, mencari petunjuk di antara unggahan dan komentarnya. Akhirnya, aku menemukannya. Sebuah foto. Adrian, memeluk wanita lain. Senyumnya, senyum yang dulu hanya untukku, kini ia berikan pada orang lain. Hatiku hancur berkeping-keping. Api dendam mulai membara dalam diriku. Aku ingin membuatnya merasakan sakit yang sama, kehilangan yang sama. Tapi, balas dendam bukanlah diriku. Aku tak ingin menjadi monster yang dipenuhi kebencian. Aku ingin dia tahu bahwa ia telah kehilangan sesuatu yang berharga, sesuatu yang _tidak akan pernah ia temukan lagi_. Aku menulis pesan terakhir. Bukan makian. Bukan hinaan. Hanya sebuah pengakuan. "Adrian, aku tahu. Aku tahu semuanya. Terima kasih untuk kenangan yang pernah kita bagi. Aku berharap kamu bahagia. Tapi ketahuilah, kamu telah kehilangan seseorang yang benar-benar mencintaimu. Dan itu adalah _kehilangan terbesarmu_." Aku mengirim pesan itu, lalu memblokir nomornya. Aku bangkit dari kursi, menatap pantulan diriku di jendela. Hujan masih turun. Aku tersenyum. Senyum yang _palsu_, namun penuh kemenangan. Balas dendamku bukanlah tentang menghancurkannya. Tapi tentang _membebaskan diriku sendiri_. Aku mematikan ponselku. Dunia maya sunyi. Aku menyesap kopi terakhirku, merasakan pahitnya di lidahku. Kemudian, aku keluar dari apartemen, melangkah menuju masa depan yang tak pasti. Aku pergi. Tanpa sepatah kata pun. Dan di belakangku, *DIA* ditinggalkan dengan penyesalan yang tak terucapkan, sebuah kekosongan yang takkan pernah terisi.
You Might Also Like: Distributor Skincare Supplier Skincare

Post a Comment