Wajib Baca! Ia Menyebutku Dalam Podcast, Tapi Tak Menyebut Namaku

Baik, ini dia kisah dracin pendek yang Anda inginkan: **Ia Menyebutku Dalam Podcast, Tapi Tak Menyebut Namaku** Rintik hujan di Shanghai terasa dingin menusuk tulang. Mei Hua menggigil, meski sudah mengenakan mantel wol tebal. Suara dari earphone-nya terdengar samar di tengah kebisingan kota: sebuah podcast tentang sejarah musik klasik Tiongkok. Hostnya, seorang pria bernama Lin, memiliki suara yang familier, *sangat* familier. "…dan kemudian, sang virtuoso, pianis legendaris, meninggal dalam tragedi yang menyesakkan. Kehilangan yang *tak tergantikan* bagi dunia musik." Mei Hua berhenti melangkah. Jantungnya berdebar kencang. Virtuoso? Piano? Tragedi? Ada secercah ingatan yang berputar di benaknya, seperti pecahan kaca yang tajam dan menyakitkan. Ia meraih tembok bangunan untuk menopang diri. Dunia terasa berputar. Nama Lin terus bergema di telinganya. Podcastnya menjadi rutinitas Mei Hua. Setiap episode, ia menemukan potongan puzzle. Lagu-lagu yang pernah dimainkan, kota-kota yang pernah dikunjungi, bahkan anekdot-anekdot kecil tentang kebiasaan aneh sang pianis. Semua itu terasa *terlalu* nyata. Ia seorang pianis. *Dulu*. Di kehidupan yang lain. Namanya... Li Wei. Ingatan itu datang seperti banjir bandang. Konser-konser megah, pujian dari kritikus, tepuk tangan meriah. Dan kemudian... **dia**. Lin. Sahabatnya. Manajernya. Orang yang dipercayainya. Pengkhianatan. Lin telah mencuri komposisi Li Wei, menjualnya atas namanya sendiri, lalu... merencanakan kecelakaan itu. Kecelakaan yang menewaskan Li Wei, dan mengakhiri karirnya yang gemilang. Ia mengingat senyum sinis Lin saat terakhir kali mereka bertemu, tepat sebelum mobil yang dikendarainya meluncur ke jurang. Podcast Lin adalah pengakuan yang tersembunyi, penghormatan yang terasa pahit. Ia memuji Li Wei, karyanya, *tanpa menyebutkan kejahatannya*. Mei Hua menatap pantulan dirinya di jendela toko. Mata itu bukan lagi mata Li Wei yang polos. Ada tekad yang membara di sana. Ia bekerja keras. Dengan nama Mei Hua, ia kembali menekuni piano. Jari-jarinya, yang dulu lentur memainkan *Für Elise*, kini berjuang dengan *Clair de Lune*. Ia berlatih tanpa henti, membakar semangat dendam di hatinya. Bertahun-tahun kemudian, Mei Hua menjadi guru piano yang dihormati. Seorang produser muda, penggemar podcast Lin, datang menemuinya. Ia ingin Mei Hua memainkan komposisi Li Wei dalam sebuah konser amal. Sebuah konser yang didedikasikan untuk mengenang sang pianis legendaris. Mei Hua tersenyum tipis. "Tentu saja," jawabnya. "Saya akan dengan senang hati menghormati warisannya." Malam konser tiba. Lin hadir, duduk di barisan depan. Wajahnya berkerut dimakan usia, tapi matanya masih menyimpan kilatan licik yang sama. Mei Hua duduk di depan piano. Lampu sorot menyinari wajahnya. Ia memainkan komposisi Li Wei dengan sempurna, *lebih* sempurna dari yang pernah dimainkan Li Wei sendiri. Setiap not, setiap nada, adalah sebuah tuduhan. Setelah konser, Lin menemuinya di belakang panggung. "Luar biasa," katanya, suaranya bergetar. "Kamu mengingatkan saya pada… Li Wei." Mei Hua menatapnya lurus. "Saya tahu," jawabnya, senyumnya dingin. "Saya juga." Ia lalu mengumumkan bahwa ia akan membuka sekolah musik. Sekolah yang akan mendedikasikan diri untuk mengajarkan komposisi orisinil, melindungi hak cipta, dan membina generasi musisi yang jujur. *Tidak ada tempat bagi plagiarisme di sini*. Lin terdiam. Ia mengerti. Balas dendam Mei Hua bukan tentang menghancurkan karirnya, tetapi tentang membangun masa depan yang lebih baik, masa depan di mana keadilan ditegakkan. Masa depan di mana *Li Wei* akan dikenang dengan benar. Saat Lin berbalik dan melangkah keluar dari ruangan, Mei Hua berbisik, "Permainan baru kita… baru saja dimulai." Dan mungkin, di kehidupan selanjutnya, kita akan bertemu lagi, *sahabat*.
You Might Also Like: Distributor Skincare Supplier Skincare

Post a Comment