Drama Seru: Kau Datang Di Tengah Upacara, Dan Aku Lupa Siapa Pengantinnya

Baiklah, ini dia kisah Dracin tragis yang kamu inginkan: **Kau Datang di Tengah Upacara, dan Aku Lupa Siapa Pengantinnya** Hujan abu melukis langit Qiongzhou kelabu. Di tengah riuhnya upacara pernikahan Putra Mahkota Li Wei, angin menderu membawa sosok *asing*. Pakaiannya compang-camping, wajahnya tertutup debu, namun matanya…mata itu tak bisa ku lupakan. Mata **Yue**. Yue dan aku tumbuh besar bersama. Bukan saudara kandung, tapi lebih dari itu. Kami berbagi rahasia di balik pohon sakura tua, mimpi yang terukir di bintang-bintang, dan latihan pedang di bawah tatapan rembulan. Kami adalah pedang dan sarungnya, Ying dan Yang. Sampai…sampai takdir mencabik persahabatan kami. "Yue?" bisikku, suaraku tenggelam dalam tabuhan genderang. Dia tidak menjawab. Matanya hanya tertuju padaku, tatapan yang dulu hangat kini sedingin es. Bibirnya yang dulu sering tersenyum, kini mengeras menjadi garis tipis berbahaya. Upacara tetap berjalan. Aku, Li Chang, berdiri di samping Putri Huan, calon istri yang bahkan wajahnya pun tak ku ingat. Pikiranku kacau, terbelah antara kewajibanku sebagai Putra Mahkota dan kerinduan yang menyakitkan pada masa lalu. "Kau terlihat pucat, Chang'er," Putri Huan berbisik, suaranya manis namun menusuk. Senyumnya tidak sampai ke matanya. "Apa kau merindukan masa lalumu?" "Masa lalu adalah masa lalu," jawabku, berusaha menyembunyikan getar dalam suaraku. "Kewajiban memanggil." Namun, kewajiban itu terasa seperti jerat yang mencekik. Setiap langkahku menuju altar, semakin terasa cengkeraman masa lalu. Aku tahu ada sesuatu yang disembunyikan. Yue tidak mungkin datang tanpa alasan. Malamnya, aku menyelinap keluar istana. Hujan abu semakin deras. Aku menemukan Yue di bawah pohon sakura tua kami. Siluetnya di bawah rembulan tampak rapuh, namun auranya memancarkan kekuatan yang menggetarkan. "Mengapa kau datang, Yue?" tanyaku, suara pelan. "Untuk **mencegah** kesalahan," jawabnya, matanya berkilat. "Pernikahan ini…penipuan." Penipuan? Apa yang dia maksud? "Putri Huan…bukanlah Putri Huan yang kau kenal," bisiknya, mendekatiku. "Dia adalah…seorang mata-mata." Kata-kata itu menghantamku bagai petir. Putri Huan, mata-mata? Untuk kerajaan Xiongnu, musuh bebuyutan Qiongzhou? "Bagaimana kau tahu?" tanyaku, menggenggam pedangku. "Rahasia lama…rahasia yang seharusnya tidak pernah kau tahu," jawabnya, meraih tanganku. Jari-jarinya dingin, sedingin kematian. "Ayahmu…**dia** yang membunuh keluargaku." Darahku membeku. Ayahku, Kaisar yang bijaksana dan adil? Membunuh keluarga Yue? "Itu…mustahil," bisikku, menolak percaya. "Tidak ada yang mustahil dalam politik, Chang'er," Yue tertawa pahit. "Ayahmu takut akan kekuatan klan Yue. Dia menjebak mereka, menuduh mereka berkhianat, dan menghabisi mereka semua…kecuali aku. Aku berhasil lolos, bersembunyi, dan merencanakan balas dendam." "Jadi…kau juga ingin membalas dendam padaku?" tanyaku, pedih. "Awalnya…ya," jawabnya, menunduk. "Tapi aku melihatmu, Chang'er. Aku melihat beban yang kau pikul, kehormatan yang kau jaga. Aku tahu kau tidak bersalah." Malam itu, kami menyusun rencana. Aku akan mengungkap identitas asli Putri Huan di depan seluruh istana. Yue akan membantuku. Bersama, kami akan membersihkan nama klan Yue. Namun, takdir punya rencana lain. Saat aku mengungkap kebenaran tentang Putri Huan, kekacauan pecah. Pengawal kerajaan menyerang. Putri Huan, dengan senyum sinis, mencabut belatinya. "Kau bodoh, Chang'er," desisnya. "Kau pikir kau bisa mengalahkanku? Kekuatan kerajaan Xiongnu tak terhentikan!" Pertempuran sengit terjadi. Yue melindungiku dengan segenap jiwa raganya. Aku bertarung dengan amarah dan keputusasaan. Akhirnya, aku berhasil melumpuhkan Putri Huan. Namun, kemenangan itu pahit. Saat aku berbalik, aku melihat Yue tergeletak di tanah. Darah mengalir deras dari dadanya. Anak panah menancap di jantungnya. "Yue!" teriakku, berlutut di sampingnya. "Chang'er…maafkan aku," bisiknya, tersenyum lemah. "Aku…*mengkhianatimu*…" Kata-kata itu menghantamku bagai pisau. Pengkhianatan? Darinya? Mengapa? "Aku… bekerja sama dengan Xiongnu… untuk menjatuhkan ayahmu… dan merebut tahta… untukmu…" Napasnya tersengal. Matanya memudar. "Tapi… aku mencintaimu… *lebih dari balas dendam*…" Dia menghembuskan napas terakhirnya. Di tanganku. Di bawah hujan abu yang tak berkesudahan. Aku membeku. Kebenaran menghantamku seperti tsunami. Yue mengkhianatiku, namun dia melakukannya karena cinta. Dia ingin aku menjadi Kaisar, meskipun itu berarti mengorbankan segalanya. Kemarahan, kesedihan, dan penyesalan bercampur aduk dalam diriku. Aku berdiri, mengangkat pedangku tinggi-tinggi. "Aku akan membalas dendam!" teriakku, suaraku menggema di seluruh istana. "Aku akan menghancurkan Xiongnu! Aku akan menuntut balas atas kematian Yue!" Dan aku melakukannya. Aku memimpin pasukan Qiongzhou menuju kemenangan demi kemenangan. Aku membakar kota-kota Xiongnu. Aku menumpahkan darah mereka di tanah mereka sendiri. Namun, kemenangan itu terasa hampa. Setiap kepala yang kupenggal, setiap kota yang kubakar, semakin mengingatkanku pada Yue. Pengkhianatannya…pengorbanannya…cintanya… Pada akhirnya, aku berdiri di atas tumpukan mayat, seorang Kaisar yang menang namun hancur. Aku meraih pedang Yue, menatap pantulan wajahku yang penuh noda darah. "Aku seharusnya tidak pernah membiarkanmu mencintaiku, karena sekarang… aku tak punya apa-apa lagi untuk dipertahankan, selain dendam yang membakar." Dan dengan bibir bergetar, aku bergumam, "Maafkan aku, Yue… aku *tidak pernah tahu* seberapa besar kau mencintaiku sampai… semuanya terlambat."
You Might Also Like: Jualan Kosmetik Usaha Sampingan Online

OlderNewest

Post a Comment