Oke, ini dia, sebuah kisah dracin tragis berjudul 'Aku mencium tangan mayatmu, karena hanya itu caraku berpamitan.', ditulis dalam bahasa Indonesia: **Aku Mencium Tangan Mayatmu, Karena Hanya Itu Caraku Berpamitan.** Hujan abu menyelimuti Kota Terlarang. Di bawah langit kelabu, dua siluet berdiri di atas altar batu yang berlumuran darah. Mei Lan, dengan jubah *phoenix* merahnya, menatap dingin pada adiknya, Bai Lian, yang terbaring tak bernyawa. Udara berbau anyir, bercampur aroma dupa yang membakar kenangan. "Bai Lian... adikku," bisik Mei Lan, suaranya serak. "Dulu, kita bermain pedang di halaman istana. Kita berbagi mimpi tentang dunia yang adil, tentang kekuasaan yang bijaksana. Tapi... *lihatlah* sekarang." Bai Lian tidak menjawab. Matanya menatap kosong ke langit. Mei Lan berlutut, meraih tangan adiknya yang dingin. "Aku mencium tangan mayatmu, karena hanya itu caraku berpamitan." Kisah mereka dimulai di lorong-lorong istana yang remang-remang. Mei Lan, putri sulung Kaisar, ditakdirkan untuk takhta. Bai Lian, anak haram yang diselundupkan ke istana, menjadi sahabatnya, pelindungnya, senjatanya. Mereka tumbuh bersama, saling melengkapi, saling mengerti... atau begitulah yang dipikirkan Mei Lan. "Kita adalah satu, Mei Lan," ucap Bai Lian suatu malam, di bawah rembulan yang pucat. "Darah kita sama, mimpi kita sama." Namun, di balik senyum manis Bai Lian, tersembunyi rahasia yang menggerogoti hati Mei Lan. "Apakah kau mengingat malam itu, Mei Lan? Malam ketika Ayahanda mengatakan bahwa aku… BUKAN anak kandungnya?" Bai Lian bertanya dengan suara bergetar suatu hari. Misteri mulai terkuak ketika Mei Lan menemukan gulungan perkamen tersembunyi di kamar Bai Lian. Di sana tertulis: Bai Lian adalah keturunan Dinasti Ming yang dikalahkan, yang bersumpah untuk merebut kembali takhta dengan cara apa pun. Mei Lan, Sang Putri Mahkota, hanyalah alat. *Pengkhianatan* itu membelah hati Mei Lan. Orang yang paling dicintainya, orang yang dipercayainya dengan seluruh jiwanya, ternyata adalah musuh bebuyutan. Dialog mereka menjadi permainan pisau yang tajam. "Kau tahu, Bai Lian, aku selalu mengagumi kecerdasanmu," kata Mei Lan suatu malam, sambil menuangkan teh untuk adiknya. "Tapi rupanya, kau meremehkanku." "Kecerdasan? Atau KEBODOHAN, Mei Lan? Kau begitu buta oleh cinta, kau tidak melihat pedang yang kuasah di belakangmu," balas Bai Lian, matanya berkilat-kilat. Balas dendam menjadi tak terhindarkan. Mei Lan merencanakan penyerangan balik yang mematikan, menggunakan semua sumber daya yang dimilikinya sebagai Putri Mahkota. Pertempuran terakhir terjadi di altar batu. Bai Lian, dengan pedang di tangan, berusaha membunuh Mei Lan. Tetapi Mei Lan lebih cepat, lebih kuat, lebih bertekad. "Kau pikir kau bisa mengkhianatiku, Bai Lian? Kau pikir kau bisa merebut tahta dariku?" teriak Mei Lan, pedangnya menari-nari di udara. "Kau salah. Aku akan memastikan Dinasti Mingmu MATI selamanya!" Setelah pertarungan yang sengit, Mei Lan berhasil melumpuhkan Bai Lian. Adiknya tersungkur ke tanah, darah mengalir dari lukanya. "Kenapa, Mei Lan? Kenapa kau melakukan ini?" tanya Bai Lian, suaranya melemah. Mei Lan berlutut di samping Bai Lian. "Karena... aku mencintaimu. Dan kau menghancurkanku." Saat itulah, kebenaran pahit terungkap. Bai Lian mengakui bahwa dia memang keturunan Dinasti Ming, tetapi dia tidak pernah berniat mengkhianati Mei Lan. Dia hanya ingin melindunginya dari intrik istana, dari musuh-musuh yang mengintai di kegelapan. Gulungan perkamen itu palsu, dibuat oleh musuh-musuh mereka untuk memecah belah mereka. "Aku… aku hanya ingin kau AMAN, Mei Lan," bisik Bai Lian, napasnya tersengal. "Aku selalu… mencintaimu… lebih dari tahta." Mei Lan terdiam. Air mata mengalir di pipinya. Dia telah membunuh orang yang paling dicintainya, karena kesalahpahaman, karena KEBOHONGAN. Mei Lan mencium tangan mayat Bai Lian. Bibirnya bergetar. "Maafkan aku," bisiknya. "Aku… aku tidak tahu apa yang telah kulakukan…." Di bawah hujan abu, Mei Lan memeluk erat mayat adiknya. Dia tahu, hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Kekuasaan telah menjadi kutukan. Cinta telah menjadi racun. Kebenaran telah menjadi pedang yang menancap di hatinya. "Aku… aku menyayangimu, Bai Lian, sampai napas terakhirku, meskipun… aku tidak pantas mengatakannya lagi…"
You Might Also Like: Seru Air Mata Yang Menjadi Racun Sunyi

Post a Comment