Oke, ini dia kisah dracin pendek berjudul 'Janji yang Diucapkan di Antara Mayat': **Janji yang Diucapkan di Antara Mayat** Lorong istana itu *hening*, diterangi obor-obor yang menari-nari liar, menciptakan bayangan panjang yang mencurigakan. Debu waktu telah mengendap di setiap sudut, menyelimuti rahasia kelam yang tersembunyi selama bertahun-tahun. Angin dingin berdesir, membawa aroma lembab tanah dan... kematian. Xiao Zhan berdiri di sana, sosoknya setegak pedang, namun matanya—mata yang dulu penuh tawa—kini dipenuhi kesedihan yang mendalam. Setelah lima tahun dianggap tewas dalam pemberontakan, ia kembali. Bukan untuk merebut tahta, tapi untuk menagih janji. Di hadapannya, berdiri Permaisuri Lian, wanita yang dulunya dicintainya, kini berbalut gaun sutra hitam yang anggun. Wajahnya pucat, namun sorot matanya setajam belati. "Xiao Zhan... kukira kau sudah mati," bisiknya, suaranya selembut sutra namun penuh racun. "Kematian adalah harga yang pantas kubayar untuk kebenaran," balas Xiao Zhan, suaranya bagai gema di lorong yang sunyi. "Janji yang kau ucapkan di kuil saat *gerhana* lima tahun lalu... kau ingat?" Permaisuri Lian tersenyum tipis. "Janji? Janji hanyalah kata-kata yang diucapkan bibir. Kekuasaanlah yang abadi." "Kata-kata memiliki kekuatan. Terutama kata-kata yang diucapkan di hadapan mayat," Xiao Zhan melangkah mendekat. "Mayat Jendral Li. Mayat ayahku. Kau bersumpah setia kepadaku, Lian. Kau bersumpah akan membantuku mengungkap kebenaran di balik kematian mereka." "Kebenaran yang mana?" Permaisuri Lian tertawa kecil. "Kebenaran yang kau inginkan, atau kebenaran yang *sebenarnya*?" Kabut mulai merayap masuk ke lorong, menyelimuti mereka berdua. Xiao Zhan bisa merasakan aura dingin yang menusuk tulang. Ia tahu, malam ini, topeng akan runtuh. "Ayahku tidak bersalah atas pengkhianatan! Jendral Li tidak pantas mati!" Permaisuri Lian mengangkat tangannya, memberikan isyarat kepada para penjaga yang tiba-tiba muncul dari kegelapan. "Ayahmu terlalu tahu banyak. Jendral Li... terlalu setia. Dan kau, Xiao Zhan... kau terlalu naif." Xiao Zhan tertegun. "Jadi... *kau*?" Permaisuri Lian mengangguk, senyumnya kini merekah sempurna. "Akulah yang mengatur semuanya. Pemberontakan, kematian ayahmu, kematian Jendral Li... dan kepergianmu." Xiao Zhan merasakan dadanya sesak. Selama ini, ia mencari keadilan di tempat yang salah. Ia mencari korban, padahal *korban* itu sendiri adalah dalangnya. "Kau... mencintaiku?" tanyanya lirih. "Cinta? Itu hanyalah kelemahan," jawab Permaisuri Lian dingin. "Kelemahan yang sudah lama ku buang." Pedang terhunus. Para penjaga mendekat. Xiao Zhan menatap Permaisuri Lian untuk terakhir kalinya. Di mata wanita itu, ia melihat bukan cinta, bukan penyesalan, hanya... *kekuasaan*. Ia kemudian berkata, "Jadi selama ini, aku hanyalah bidakmu... Tapi tahukah kamu, ratuku yang terkasih, bidak itu sudah berubah menjadi menteri... dan sekarang, giliran ratu untuk *skakmat*." Ekspresi Permaisuri Lian berubah drastis, ketakutan membayang di matanya. Namun sebelum ia sempat mengucapkan sepatah kata pun, Xiao Zhan menutup matanya, menghela napas, dan membiarkan pedang para penjaga merobek tubuhnya. Karena bahkan dalam kematian, dia tahu, rencananya akan terus berjalan. Dan kebenaran, akhirnya, akan terungkap. **Karena bahkan di balik kematiannya, dia yang mengatur semuanya... sejak awal.**
You Might Also Like: Tafsir Kehilangan Uang Inilah Faktanya

Post a Comment